Ratusan Muslimin Jatiagung Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Lampung Selatan : Ratusan umat islam Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan mengikuti pengajian akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertemakan “Dengan Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Kita Tingkatkan Iman Taqwa dan Memperkokoh Ukhuwah Islamiah".

Pelaksanaan pengajian dilangsungkan di Masjid Nurul Islam Desa banjar Agung Kecamatan Jati Agung, sekitar pukul 20.30 WIB, Senin malam (19/12/2016).

Kegiatan dihadiri Ustadz Abdul Azis pemimpin Ponpes Bahrul Ulum Desa Marga Kaya, Jati Agung, Ustadz Selamat dari Ponpes Yatim Shenikh Khalid Bin Abdullah Bin Khalid Al Thani, Kades Banjar Agung Hendro Subroto, Untung Suantoro dari tokoh masyarakat, dan kurang lebih 250 orang masyarakat dan santri.

Dalam laporannya ketua panitia pelaksana Suparman, mengatakan penyelenggaraan maulid Nabi Muhammad SAW tersebut meningkatkan iman taqwa sekaligus menjalin silaturahmi serta mewujudkan ukhuwah islamiyah.

"Selain itu, diharapkan juga kerja sama ini dapat terus berlangsung dengan masyarakat Desa Banjar Agung,"kata dia.

Sementara itu dalam sambutannya pemimpin Ponpes Bahrul Ulum Desa Marga Kaya, Jati Agung Abdul Azis mengatakan, pelaksanaan kegiatan perayaan Nabi Muhammad SAW, dimana mengusung tema "Dengan Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Kita Tingkatkan Iman Taqwa dan Memperkokoh Ukhuwah Islamiah", dirasa sangat tepat.

"Karena tidak adanya surat Al-Quran yang menyatakan secara eksplist/gamblang secara teknis terkait perintah-perintah yang ada di dalam Al-Quran, sehingga perlu ahli tafair Al-Quran yang dilakukan oleh sahabat-sahabat nabi melalui Haditz Nabi. Misalnya, Allah dalam Al-Quran memerintahkan umatnya untuk membaca Sholawatan, namun tidak ada Al-Quran mengatur secara teknis hal tersebut. Hal tersebut menyebabkan perbedaan dalam melakukan tafsir Al-Quran yang menimbulkan perbedaan pemahaman antar masyarakat muslim. Adanya perbedaan ini, seharusnya digunakan sebagai motivasi untuk memperdalam agama, karena dengan memperdalam agama umat muslim akan dihormati oleh masyarakat non-muslim, karena ketaqwaan dan keimanan dengan pengetahuan agama yang cukup," beber dia.

Sebagai umat muslim, lanjut Abdul Aziz mengungkapkan, masyarakat muslim yang dilahirkan di Indonesia, bukan umat muslim di Luar negeri yang datang dengan sengaja ke Indonesia. Hal tersebut membawa konsekwensi bahwa menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara harus menjunjung tinggi Pancasila dan hukum positif di Indonesia.

"Namun dalam kegiatan keagamaan dan kepercayaan tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan Haditz nabi. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksakan perbedaan yang dimiliki, karena tidak ada manusia merasa paling benar, termasuk perbedaan antar masyarakat muslim sendiri," tandas dia.

Dalam menjalankan hidup berbangsa dan bernegara sebagai umat muslim, katanya, harus berpegang teguh kepada 4 pilar kebangsaan yang bisa disingkat menjadi "PBNU" yaitu Pancasila, Bhinekka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Dalam mengamalkan Pancasila harus menghormati sila-sila yang terdapat didalamnya, salah satunya adalah toleransi antar umat beragama. Dalam berbhinekka, sebagai umat muslim kita lahir di daerah yang berbeda, sehingga kita harus menghormati apapun Suku, Ras dan Agama yang kita miliki. Selanjutnya, sebagai orang Indonesia, wajib menghormati NKRI dengan selalu melaksanakan kewajiban kepada negara, tidak secara terus menerus meminta bantuan dan kelayakan kehidupan kepada negara. Terakhir, Undang-Undang Dasar, merupakan tolak ukur hukum positif yang ada di Indonesia, sehingga sebagai orang Indonesia, apapun hukum yang berlaku di Indonesia harus ditaati,"pungkasnya. (fitri)

Post a Comment

0 Comments