Ratna Dewi Tidak Dapat Jelaskan Wisata Rohani Rp 13 Miliar

Suasana R Biro Bina Sosial Setda Pemprov Lampung

BANDARLAMPUNG, KI - Kepala Biro Kesehateraan Sosial, Ratna Dewi tidak dapat menjelaskan kegiatan wisata rohani Rp 13 Miliar Tahun Anggaran 2017. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, ia tampak bingung serta menjawab dengan setengah berdiplomasi.

"itu program Umrah. Udah sih ngobrol dikantor aja lah soalnya gak enak ngobrol di telepon," ujar Ratna Dewi saat dikonfirmasi, senin (27/3)

Setelah ditunggu tidak ada kabar, diputuskan untuk dihubungi kembali. Kali ini ia terkesan menghindar tanpa alasan. "nanti yah saya lagi rapat," kata dia

Saat kopiinstitute.com mendatangi kantornya, suasana diruangan sama sekali tidak ada kegiatan rapat. Hanya ada para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang santai kongkow-kongkow.

"bu Kepala Biro lagi ada tamu," kata salah satu stafnya

Namun disaat bersamaan seorang yang memakai pakaian PNS mengatakan " masuk aja bu ratna ada kok," ucapnya yang tidak kompak menjawab.

Berita ini meluas berawal dari alokasi anggaran sebesar Rp. 13.026.000.000 tahun anggaran 2017 untuk kegiatan wisata rohani dinilai tidak tepat. 

Pasalnya kegiatan yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan umat tidak dapat diukur secara jelas ukuran tinggi-rendahnya iman seseorang.

Terlebih Biro Kesejahteraan Sosial Sekretariat Daerah Provinsi Lampung pada 2016 lalu dengan anggaran sebesar Rp 16 Miliar Ziarah Makam dan Umrah disoal terkait manfaat serta penggunaan anggaran yang rawan penyelewengan.

Direktur Eksekutif Masyarakat Transparansi Lampung (Matala), C.Alizie mengatakan, pos anggaran tersebut tidak tepat. Apalagi tahun sebelumnya pernah dianggarkan dan banyak permasalahan terkait Ziarah Makam dan Umrah.

"saya kira kegiatan wisata rohani ini tidak tepat. Pertanyaannya siapa yang bisa mengukur keimanan seseorang. Misal sebelum berangkat wisata rohani kadar imannya rendah setelah wisata rohani imannya tinggi. Apa begitu, kegiatan seperti ini yang sangat rawan penyimpangan," ujar dia, sabtu (24/3)

Ia pun menduga kegiatan ini modus baru kejahatan anggaran dengan dalih kegiatan keagamaan.

“ kegiatan ini tiga tahun berturut-turut ada. Siapa yang pernah wisata rohani atau yang ikut program tahun sebelumnya. Tidak ada yang bisa garansi Rp 13 Miliar iman naik," kata dia

Charles khawatir akibat kegiatan ini dapat memicu sentimen keagamaan (SARA). Hal itu dinilai memungkinkan untuk terjadi mengingat umat diluar muslim yang menyoroti kegiatan ini merasa terpinggirkan. 

Sebab di Lampung bukan hanya ada satu agama saja tapi umat diluar islam juga ada. Untuk itu, ia menyarankan untuk dapat menggunakan anggaran negara dengan bijak dan tepat sasaran serta penuh toleransi dan tenggangrasa antar umat beragama.

"meski kita ini mayoritas tapi hendaknya menjaga perasaan saudara kita yang berbeda keyakinan,”urainya.

Berdasarkan catatan Matala,indikasi penyimpangan pada pelaksanaan ziarah makam tahun 2015 semestinya dijadikan bahan evaluasi Biro tersebut supaya tidak merencanakan program kegiatan yang cenderung tidak berpihak pada semangat efesiensi anggaran.

“ Kasus umroh dan ziarah makam 2015 lalu pernah mencuat kan. Itu dulu masalah. Harusnya anggaran sebesar itu dialokasikan ke program yang lebih kongkrit sebab urusan keimanan umat itu Habluminallah jadi tidak bisa dengan jalan-jalan atau Rp 13 miliar iman naik,”tegasnya

Disisi lain, masyarakat umat kristiani Via Dellaroza warga kedaton Bandar Lampung mengaku senang apabila ada program serupa untuk wisata rohani umat kristiani.

"kalau ada wisata rohani jalan-jalan gitu ya senanglah," kata dia saat dihubungi.(Wen)

Post a Comment

0 Comments