JANJI Belum Terealisasi, Mustafa Sudah Lari.



Ilustrasi
LAMPUNGTENGAH, KI - Intensitas dan fokus Mustafa yang berlebihan atas intruksi Gubernur Lampung nomor 3 Tahun 2015 tentang Pengefektifan Kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dinilai pengamat menjadi blunder, selain alokasi dana APBD Lamteng yang berlebihan terhadap kegiatan tersebut, efektifitas ronda dalam menekan tingkat kejahatan serta menciptakan rasa aman untuk setempat justru tertutup dengan publikasi  media yang berlebihan melalui siaran pers Humas Pemkab Lamteng.

“ Kemana saja Mustafa  saat mendampingi Pairin periode lalu, jika memang berkomitmen menciptakan rasa aman dan mempunyai tanggung jawab terhadap tanah kelahiran, seharusnya Ronda ini sudah digalakkan Mustafa saat memimpin Lamteng bersama Pairin. Padahal sama-sama kita ketahui jika 5 tahun lalu tingkat kejahatan di Lamteng cukup memprihatinkan,”tegas Akademisi Universitas Lampung (Unila) Yusdianto saati dikonfirmasi melalui sambungan telepon dilansir hariantribun.com, jum’at (29/4).

Kandidat Doktor Universitas Padjajaran (Unpad) ini menduga jika kegiatan ronda itu hanya sebagai upaya sistematis dan masif dalam konteks membangun citra guna menghadapi Pilgub 2018 mendatang.

Dikatakannya, persoalan keamanan di Lamteng menjadi tanggung jawab aparat setempat meskipun selaku pemangku kepentingan, Mustafa pun menurutnya harus ikut andil, namun akan lebih baik sinergisitas yang dibangun antara Pemkab dan Polres Lamteng.

Hal itu untuk menekan angka kriminalitas tidak serta merta dijadikan sarana menggiring opini publik jika dominasi Bupati lebih berpengaruh dengan adanya penurunan angka kejahatan dibanding dengan kinerja Polri yang memang justru lebih terlatih dalam menangani penyakit masyarakat.

“ Opini yang berkembang saat ini di Lamteng justru  Bupati yang paling berjasa menekan angka kriminalitas, Polres Lamteng yang seharusnya menjadi garda terdepan tidak terdengar tangguh dalam upaya menciptakan rasa aman. Seingat saya pada tahun 2016 lalu kasus kejahatan yang terjadi justru lebih banyak persoalan C3 (Curat, Curas dan Curanmor), pencurian dengan kekerasan justru terjadi peningkatan. Kalau memang masalah keamanan bisa selesai hanya dengan ronda, Kapolres tinggal berbagi jadwal saja dengan Bupati," ucapnya.

Masalah kriminalitas di Lamteng,terusnya, bukan hanya persoalan, pencurian ataupun begal. Terjadinya peningkatan  yang sangat signifikan yakni kejahatan seksual dan pencabulan anak di bawah umur otomatis membuktikan jika, masalah sosial dan penyakit masyarakat yang muncul tidak dapat terselesaikan hanya dengan aksi tebar pesona Bupati Ronda.

“ Sampai dengan tahun 2017 ini, LPA Lamteng mencatat kalau kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur terus mengalami peningkatan dan menurut saya itu masalah yang sangat serius,selain itu sejak Januari hingga Februari 2017, Polres Lamteng telah menangkap 54 pelaku kejahatan, logikannya kan tidak mungkin dari puluhan TKP itu tidak pernah dipatroli oleh di Bupati Ronda,”ujarnya.

Persoalan Lamteng,tambahnya bukan hanya masalah keamanan, beberapa program yang diyakini Mustafa dan Loekman sebagai solusi semua masalah di Lamteng justru cenderung tidak mendapat porsi yang sama bahkan beberapa mengalami stagnasi.

“ Saya yakin, masyarakat Lampung Tengah merasa dikhianati oleh Mustafa, karena janji-janji kampanye pada pilkada lalu sengaja ditinggalkan dan akhirnya publik mampu menebak jika Pilkada Lamteng lalu hanya sebagai batu loncatan Mustafa untuk mengejar ambisi menjadi Gubernur, inkonstensi Mustafa untuk membangun Lamteng sangat kontradiktif dengan semangat restorasi partai,”tandasnya.(YAN)

Post a Comment

0 Comments