Jualan Ronda Jelang Pilkada


Ilustrasi
kopiinstitue.com - Aktifitas Ronda belakangan ini kembali menjadi familiar di telinga kita, sistem keamanan mandiri dengan partisipasi swakarsa masyarakat ini memang orientasinya menciptakan rasa aman selain itu juga merajut semangat kebersamaan dan jalinan silaturahim.

Meskipun tidak dapat dipungkiri jika sistem keamanan yang paling konvensional ini merupakan warisan kolonial yang sejarah berawal dari berdirinya pos-pos penjaga di zaman Belanda.

Boomingnya Ronda di Kabupaten Lampung Tengah yang digagas Bupati Mustafa dan dimbangi dengan derasnya intensitas media dalam semangat kebersamaan dengan Pemkab Lamteng yang dikemas apik melalui release Humas ataupun membangun pondasi simbiosis mutualisme dengan mensosialisasikan Ronda melalui ruang-ruang komersial yang nilainya berdasarkan kesepakatan bersama yakni advetorial.

Tentunya sudah dapat ditebak, Ronda Lamteng menjadi populer bahkan sebutan Bupati Ronda terhadap Mustafa justru menjadi kemasan baru  dan layak jual  dalam konteks Pilkada, karena adanya sosialisasi yang berlebihan pada Ronda itu secara otomatis  akan terbangun pencitraan positif. 

Dan tidak dapat ditampik ganjaran citra yang menjadi hasil akhir dan itu sangat manusiawi. Bahkan Mustafa sekalipun tetap berorientasi kepada hasil oleh sebab itu Terciptanya Rasa Aman bagi warga Lamteng menjadi sangat efektif dijadikan alibi untuk kegiatan Ronda.

Sebagai pemangku kepentingan,  Mustafa jeli melihat peluang. Maklum Ketua DPW Nasdem Lampung ini matang dalam berorganisasi. 

Urusan bangun citra, giring opini bahkan tebar pesona bukan hal yang sulit untuk dilakukannya, dan sesuai prediksi ketika Ronda Lamteng pertama kali dilakukan nyaris tidak ada sentimen publik yang muncul justru dukungan dan apresiasi terlihat dominan. 

Adanya fenomena itu karena gencarnya back up media dan alokasi anggaran publikasi melalui Humas Pemkab Lamteng.

Beberapa pihak sangat menyayangkan inisiatif berlebihan yang dilakukan Mustafa atas intruksi Gubernur Lampung nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pengefektifan Kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).

Tak heran opini negatif mulai bermunculan jika pelaksanaan ronda di Lamteng telah menyimpang dari tujuan awal, kecenderungan membangun citra justru lebih mendominasi dan sebagian pengamat bahkan berpendapat jika Ronda hanya sebagai komoditas politik Ketua DPW Nasdem untuk Pilgub 2018 mendatang.


Tak ada gading Yang tak retak, begitu juga dengan Bupati Ronda, fokus terhadap terciptanya rasa aman justru mengganggu konsentrasi Mustafa untuk menuntaskan janjinya terhadap masyarakat saat kampanye Pilkada Lamteng tahun lalu.

Lazimnya politisi sangat karib dengan ranah abu-abu, takdir manusia sebagai mahluk tuhan yang mempunayi nafsu juga terjadi pada Mustafa, kini jangan berharap lagi kita mendengar mantan Ketua Kadin Lampung ini membantah pertanyaan media jika Ia tidak ingin berspekulasi soal Pilgub, tenaga harta jiwa dan raga yang difokuskan untuk membangun tanah kelahiran hanya dapat kita temui dalam halaman arsip dibeberapa media

“Lampung Tengah ini baru mulai mau aman. Kampung-kampungnya mau kita buat terang, karenanya saya tidak mau berspekulasi soal pemilihan gubernur. Saat ini, tenaga dan pikiran saya hanya fokus untuk pembangunan Lampung Tengah,” bantah Mustafa beberapa waktu lalu seperti dikutip dari ruangmustafa.com.

Kini tinggal masyarakat Lamteng yang dihinggapi rasa cemas akan kondisi keamanan di lingkungan mereka, kondisi daerah yang menurut Bupati Ronda Baru Mulai Mau Aman berpeluang tidak aman kembali.

Hal ini bukan tanpa alasan, tingakt partisipasi warga yang mengalami peningkatan luar biasa setelah di galakkan ronda oleh Mustafa hampir sebagian besar karena tergiur dengan sejumlah iming-iming, dana stimulan yang dijanjikan.

Akhirnya Ronda  diyakini Mustafa menjadi Kecap Nomor Satu yang mendapat rekomendasi untuk menjadi komoditi paling menjanjikan dalam konteks membangun citra untuk menuju pesta demokrasi lima tahunan di Provinsi Lampung.

Akhirnya ekspektasi masyarakat Lamteng untuk tetap bersama Bupati Ronda dalam menciptakan rasa aman lambat laun selama lima tahun kedepan terkhianati oleh sikap inkonsistensi dari seorang pejuang restorasi.(****)

Post a Comment

0 Comments