7 Juli 2017

Pertamina PHK Buruh.

SHARE

JAKARTA, KI - Demi harta yang melimpah biasanya apapun akan dilakukan, termasuk melakukan hal yang tidak masuk akal dan menyalahi aturan. Semisal pergi ke gunung kawi atau gunung lainnya untuk mencari pesugihan, syaratnya pasti ada yang ditumbalkan.

Begitu juga di dunia usaha perminyakan dan perusahaan negara. Seperti halnya Pertamina, badan usaha milik negara ini meraup laba sekitar Rp 40,82 triliun pada tahun 2016.

"Pesugihan Pertamina yang didapat tersebut dari  menyalahi aturan sehingga menumbalkan nyawa para buruhnya. Dari Depot Plumpang, Jakarta, empat buruh AMT tewas terbakar dalam kecelakaan di Bogor karena kelebihan jam kerja. Tidak hanya nyawa, sekitar ribuan pekerja yang bekerja di lingkungan Pertamina mengalami penindasan," Kata buruh AMT yang tergabung didalam organisasi FBTPI-KPBI, kamis (7/7)

Awak Mobil Tangki yang sudah bekerja puluhan tahun hanya menjadi pekerja kontrak dan alih daya (outsourcing), padahal Awak Mobil Tangki tidak bisa dimasukan dalam golongan pekerjaan yang dapat dialihkan ke perusahaan outsourcing, seperti dijelaskan dalam UU No.13 tahun 2003 Ketenagakerjaan dan Permenakertrans No. 19 tahun 2012 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.

"PHK liar di awak mobil tangki juga menjadi salah satu syarat tumbal pesugihan yang di dapat oleh Pertamina.  Alih-alih, perusahaan menerapkan sistem performasi yang nilainya jauh lebih rendah dari perhitungan lembur. Mereka yang melawan praktik penindasan di-PHK. Sekitar 450 orang mengalami PHK liar yang dilakukan oleh Pertamina,"Katanya.

Demi pesugihan tersebut, Pertamina sampai hilang rasa menghargai orang. Sudah sekitar 4 kali, pihak kementerian maupun PPHI pertamina selalu enggan untuk datang menyelesaikan persoalan awak mobil tangki yang sedang terjadi.

Pihak pertamina pun selalu mangkir dalam setiap panggilan untuk menyelesaikan persoalan awak mobil tangki. Sampai 17 hari pemogokan awak mobil tangki, Pertamina masih tidak mau memenuhi tuntutan AMT.

Dibalik megahnya gedung-gedung perkantoran Pertamina, rumah direktur, gedung Pertamina yang didapat dari pesugihan tanpa henti-hentinya, ada sekitar ribuan awak mobil tangki beserta keluarganya yang menjadi tumbal dengan tidak diberikan hak-hak normatif dan kesejahteraannya. (Md)
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: