Klarifikasi AS Nol Substansi. L-SAKA Imbau Waspada Persahabatan Ala Amerika

LSAKA
INDONESIA, (Kopiinstitute.com) – Tiga hari pasca insiden penolakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk Amerika Serikat (AS) oleh U.S. Customs and Border Protection belum juga diketahui penyebab larangan tersebut. 

Meski otoritas Amerika Serikat sudah mengklarifikasi dan meminta maaf kepada Pemerintah Indonesia, namun hanya sebatas retorika karena tidak menjawab substansi terkait alasan negara Pimpinan Donald Trump mengeluarkan larangan Jenderal Gatot yang notabene utusan resmi negara untuk menghadiri acara Chiefs of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization in Washington DC

“Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan yang diakibatkan dalam insiden ini dan kami meminta maaf. Kedutaan bekerja keras untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dan berharap agar ini tidak kembali terulang,” demikian disampaikan Kedubes AS kepada Menlu RI Retno Marsudi dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (25/10/2017).

Permintaan maaf tersebut juga terlihat begitu menyepelekan Pemerintah Indonesia dan dari bahasa yang disampaikan cenderung menyederhanakan persoalan itu, seperti kalimat “kami sangat menyesalkan” sama sekali tidak penting dan tidak dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Kemudian memperhatikan kalimat “kedutaan bekerja keras untuk memahami apa yang terjadi dan berharap agar ini tidak terulang’, kalimat ini juga tidak dibutuhkan karena masyarakat Indonesia tidak butuh mendengar harapan Kedubes AS yang berharap kejadian serupa tidak terulang dan seharusnya tidak boleh terulang.

Menurut L-SAKA, pernyataan AS yang tidak menjawab substansi permasalahan seolah sengaja menutupi alasan utama penggagalan itu. Oleh karena itu, Lembaga Studi Advokasi Kebijakan ini mendesak Presiden Joko Widodo tegas meminta Presiden AS Donald Trump langsung mengklarifikasi secara terang kepada Pemerintah RI karena menyangkut wibawa Panglima TNI dan kehormatan Bangsa Indonesia.

“insiden ini harus diselidiki apa motif utamanya karena AS peristiwa yang berhubungan dengan AS tidak pernah ada istilah kebetulan atau kesalahan administrasi, dalam beberapa peristiwa di negara-negara lain cenderung punya motif dan dilakukan terencana,” ujar L-SAKA.

Terlebih, paparnya, dilihat dari situs U.S. Embassy and Consulates in Indonesia dan juga U.S. Customs and Border Protection memproteksi dari masuknya orang-orang berbahaya. 

“ini pun harus dijelaskan apakah Panglima termasuk orang berbahaya jika menghadiri acara tersebut, beliau undangan resmi, jadi ini yang harus dijelaskan supaya tidak berkembang isu-isu dan spekulasi lainnya yang berakibat kegaduhan, jika Indonesia gaduh maka yang diuntungkan AS, ingat AS terkenal dengan negara yang selalu intervensi negara lain, apalagi Indonesia sebentar lagi Pemilu Presiden, AS juga teruji dalam sabotase dan konspirasinya,” urainya

Disisi lain, Pengamat Hubungan Internasional Profesor Hikmahanto Juwana berpendapat insiden ini berpengaruh terhadap hubungan bilateral AS – Indonesia sebab penolakan masuknya Panglima dipandang telah mempermalukan Indonesia dan rakyat Indonesia secara keseluruhan, terpenting citra TNI dimata Pemimpin Angkatan Bersenjata Negara-Negara yang hadir dalam forum tersebut.(SumberCNN-Kopiinstitute.com)


Post a Comment

0 Comments