19 Desember 2017

Aktivis: Tentara Myanmar Lakukan Genosida

SHARE
Ilustrasi Aktivis: Tentara Myanmar Lakukan Genosida

MYANMAR -  Kelompok aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) Human Rights Watch (HRW) menyatakan  militer Myanmar melakukan pembunuhan sistematis dan pemerkosaan terhadap ratusan warga etnis Rohingya di Desa Tula Toli, Rakhine pada 30 Agustus 2017.

Menurut HRW, pembantaian dan pemerkosaan tersebut merupakan bagian dari kampanye pembersihan etnis yang memaksa 645 ribu etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus lalu.

Laporan setebal 30 halaman bertajuk "Massacre by the River: Burmese Army Crimes against Humanity in Tula Toli," atau "Pembantaian di Tepi Sungai, Kejahatan Kemanusiaan Tentara Burma di Tula Toli.", berisi detail serangan tentara Burma atau Myanmar terhadap ribuan warga Tula Toli, yang dikenal dengan nama resmi Min Gyi.

HRW mendokumentasikan bagaimana tentara Myanmar menjebak warga desa Rohingya hingga ke tepi sungai, lalu membunuh dan memperkosa pria, wanita dan anak-anak, lalu membakar desa-desa mereka.

Kejahatan tentara Burma di Tula Toli tidak hanya brutal, tapi juga sistematis," kata Brad Adams, Direktur Asia HRW, pada rilisnya, Selasa (19/12). "Tentara melakukan pembunuhan dan pemerkosaan ratusan Rohingya secara efisien yang hanya bisa dilakukan secara terencana."dikutip dari sumber berita CNN Indonesia.

Laporan HRW dibuat berdasarkan wawancara dengan 18 warga Rohingya asal Tula Toli di Bangladesh. Kelompok aktivis HAM itu juga mengadakan penyelidikan atas operasi militer Myanmar di desa-desa Rohingya. Sedikitnya lebih dari 200 pengungsi Rohingya sejak September.

Militer menggelar operasi besar-besaran untuk merespons serangan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) ke pos-pos militer pada 25 Agustus.

Pada pagi hari 30 Agustus, ratusan tentara Myanmar tanpa seragam, serta warga desa Rakhine bersenjata  menyerbu Tula Toli. Desa-desa Rohingya, termasuk warga di wilayah sekitarnya yang melarikan diri ke Tula Toli karena desanya diserang sebelumnya, kabur ke tepi sungai yang membatasi desa itu di ketiga sisi. 

Banyak warga desa mengungkapkan bahwa pemimpin etnis Rakhine menyuruh mereka untuk berkumpul di tepi pantai, yang dikatakan bakal aman. Padahal, tentara Myanmar langsung mengepung wilayah itu, menembaki kerumunan warga dan mereka yang berusaha kabur
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: