Ketua MPR dan Dubes Kroasia Pelihara Satwa Dilindungi

ilustrasi
BANDARLAMPUNG, (Kopiinstitute.com) – Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan Dubes Kroasia Sjachroedin ZP memelihara satwa dilindungi yang seharusnya tidak dipelihara oleh orang pribadi. Zulkifli memelihara burung merak hijau, dua rangkong, dua Krakatau jambul kuning, dan dua kakatua raja.

Satwa tersebut dipelihara dalam kandang dikediamannya sebuah vila. Pemeliharaan itu disayangkan karena saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama kepolisian sedang gencar mengumpulkan kembali satwa-satwa illegal. Sebab kejahatan ekploitasi satwa liar dilindungi merugikan negara hingga satu triliun per tahun.

Terlebih, nama spesies yang dipelihara Zulkifli tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang berisi daftar hewan dilindungi. Pasalnya hanya pemilik izin penangkaran dan lembaga konservasi yang boleh memelihara.

Awal Oktober lalu, 15 petugas gabungan Kementerian Lingkungan Hidup pernah ke vila Zulkifli untuk menyita satwa liar tersebut. Namun petugas batal menyitanya setelah mengetahui pemilik vila adalah Ketua MPR. Zulkifli pun pernah menjadi atasan mereka saat menjabat Menteri Kehutanan periode 2009-2014.

“Rombongan langsung pulang setelah kepala tim menerima telepon dari ajudan seorang pejabat,” kata seorang petugas yang ikut dalam operasi itu.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, ada 11 satwa yang izinnya hanya bisa dikeluarkan oleh presiden karena kelangkaannya. Di antaranya harimau Sumatera, orang utan, dan cenderawasih. Populasi cenderawasih pada 2000 diperkirakan hanya tinggal 12 ribu spesies.

Zulkifli menegaskan satwa yang dipeliharanya berizin. “Satwa di vila saya itu punya negara dan ada izinnya,” kata Zulkifli, juga lewat pesan pendek dilansir Tempo. Padahal pemerintah hanya mengeluarkan dua model izin untuk pemeliharaan satwa dilindungi, yakni izin penangkaran dan izin lembaga konservasi.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 mencantumkan kedua model izin satwa dilindungi hanya dikeluarkan menteri. BKSDA hanya mengeluarkan izin untuk satwa yang tidak dilindungi. Berdasarkan dokumen yang diperoleh Tempo, ada 151 penangkaran berizin di Jawa Barat.

Nama Zulkifli tidak ada. Zulkifli mengaku mengantongi izin atas nama Supardi. Saat dicek, nama itu memang tercantum dalam daftar pemegang izin penangkaran. Supardi tercatat memiliki alamat yang sama dengan vila milik Zulkifli. Ternyata Supardi adalah penjaga vila milik Zulkifli yang biasa disapa Joko.

Burung-burung berkategori dilindungi yang ada di kandang vila Zulkifli tak tercantum di dua izin tersebut. Kedua izin dikeluarkan saat Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu masih menjabat Menteri Kehutanan. Ia lengser pada 1 Oktober 2014.

Jika tak mengantongi atau menyalahi izin, para pemilik satwa dilindungi akan dijerat Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda hingga Rp 100 juta. PENYIDIK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta kepolisian mengaku sering menemui jalan buntu saat menelusuri hasil sitaan satwa dilindungi.

Selain itu, satwa dilindungi juga ditemukan di Vila Duta Besar (Dubes) Kroasia Komjen (Purn) Sjachroedin ZP di Bumi Kedaton Resort. Di vila itu, ia memelihara empat buaya muara dan tiga rusa Timor.

Menurut Kepala BKSDA Jawa Barat Sustyo Iriyono, izin penangkarannya ada, tapi dikeluarkan pada 1990. Artinya, izin itu sudah kedaluwarsa. Izin harus diperbarui tiap lima tahun. Sjachroedin berkukuh sudah mengantongi izin penangkaran. Ia bahkan mengklaim punya izin kebun binatang. Ia juga mengaku pernah menampung hewan pemberian kebun binatang.

“Kalau ada yang mau memelihara satwa saya, silakan, karena biaya perawatannya mahal,” katanya

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/ 2005 mewajibkan agar satwa-satwa dilindungi ditandai, misalnya pemakaian cincin pada burung yang dilindungi. Ini menandakan satwa tersebut sudah terdaftar di BKSDA dan memiliki asal-usul yang jelas.(Tempo/wen)


Post a Comment

0 Comments