Kontras Minta Indonesia Pimpin Penyelesaian Masalah Yerusalem

 
Ilustrasi Kontras Minta Indonesia Pimpin Penyelesaian Masalah Yerusalem
JAKARTA - Koordinator untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), Yati Andriyani mengatakan pemerintah Indonesia harus bisa menjadi pemimpin dalam permasalahan pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem yang dikemukakan Presiden AS Donald Trump.

Yati menilai pemerintah Indonesia punya kapasitas politk yang cukup kuat di tingkat internasional, terutama dalam isu Palestina.

"Pemerintah Indonesia harus leading (memimpin) di depan di tingkat internasional, menjadi pionir untuk isu-isu Palestina dan untuk kasus terkahir pemindahan ibu kota," kata Yati dikutip dari cnn Indonesia, Minggu (10/12).

Yati meminta pemerintah Indonesia tidak ragu menyampaikan kritik secara langsung kepada pemerintah Amerika Serikat maupun kepada Presiden Donald Trump.

Indonesia, kata Yati, juga harus bisa mendorong munculnya satu kesepakatan bersama atau pernyataan bersama, baik di tingkat regional maupun internasional untuk mendorong munculnya pemberian sanksi tertentu kepada Donald Trump.

Terkait rencana Jokowi untuk membahas masalah tersebut di sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI), Yati berharap agar masalah tersebut bisa menjadi isu prioritas di sidang tersebut.

"Pemerintah Indonesia bisa leading di isu ini dengan mengambil peran lebih konkret," ucao Yati.

Di sisi lain, Yati melihat masalah pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem tersebut kini sudah menjadi isu global.

Sehingga, menurutnya ketika nantinya PBB tidak bisa mengambil tindakan tegas terhadap masalah tersebut, Yati meyakini masyarakat sipil di berbagai belahan dunia akan mengambil ruang untuk terus mendesak pembatalan pemindahan ibu kota tersebut.

"Saya rasa masyarakat sipil tingkat internasional akan ambil ruang pembelaan, sikap tegas dengan terus lakukan tekanaan di domestik negara masing-masing," tutur Yati.


Trump telah secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dia menyebut hal tersebut untuk mewujudkan janji kampanye yang selama ini tak pernah diwujudkan presiden-presiden sebelumnya.

“Saya sudah memutuskan bahwa ini waktunya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (6/12).

Keputusan Trump ini berlandaskan pada satu undang-undang yang sudah diloloskan Kongres AS sejak 1995. Di dalamnya mengatur tentang pengakuan AS bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dan mengesahkan pendanaan pemindahan kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem

Post a Comment

0 Comments