Lima Diktator Bernasib Buruk

Ilustrasi
Oleh: Heru Andriyanto / HA | Selasa, 05 Desember 2017 06:45 WIB
Satu orang hidup di pengasingan dan tanpa kabar lagi. Satu dihukum pidana dan sekarang berada dalam tahanan rumah. Satu masih berkuasa di negara yang remuk akibat perang. Dua lainnya tewas dengan tragis.
Senin (4/12) kemarin dikabarkan mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, terbunuh di negara yang dilanda perang saudara, terbelah akibat konflik sektarian proxy antara Arab Saudi dan Iran, dan menjadi wilayah krisis kemanusiaan paling parah di dunia sekarang.

Kematian Saleh juga menjadi pengingat adanya gerakan Arab Spring, bermula tujuh tahun silam ketika pedagang buah Tunisia, Mohamed Bouazizi, membakar dirinya sebagai protes atas aksi brutal pemerintah dan memicu demonstrasi nasional yang memaksa presidennya mundur dan menular ke negara-negara lain di kawasan.

Berikut ini adalah catatan singkat tentang nasib lima pemimpin di Mesir, Libya, Suriah, Tunisia dan Yaman, negara-negara yang menjadi pusat gejolak politik sejak Arab Spring 2011.

Hosni Mubarak, Mesir
Dia digulingkan pada Februari 2011 setelah hampir 30 tahun berkuasa. Mubarak, 88, dulunya seperti menjadi simbol penguasa Arab yang tak tergoyahkan sehingga kejatuhannya menjadi sinyal ombak perubahan politik di kawasan itu. Dia ditahan dan didakwa korupsi serta konspirasi untuk membunuh para demonstran. Proses peradilan menunjukkan gambar dramatis dia di balik jeruji kandang besi terdakwa.

Namun kemarahan publik atas Mubarak memudar karena Mesir dilanda konflik politik yang lebih besar: penggulingan Presiden Mohamed Morsi -- yang terpilih secara demokratis namun dinilai sebagai figur pemecah belah. Dia diganti oleh tokoh kuat militer, Abdel Fatah el-Sisi, yang memimpin operasi menumpas para penentangnya. Maret lalu, pemerintahan Sisi diam-diam membebaskan Mubarak dari penjara, meskipun dia tetap disidik dalam kasus korupsi dan dilarang ke luar negeri. Dia dijaga ketat dalam sebuah rumah di Kairo.

Moammar Gadhafi, Libya
Dia pernah menyebut dirinya sebagai raja Afrika. Kolonel Gadhafi dikenal sebagai pemimpin aneh dan bengis, selalu mengenakan jubah Badui dan menguasai Libya selama lebih dari 40 tahun. Kekuasannya diakhiri oleh revolusi berdarah pada Agustus 2011.

Dia dibunuh oleh para pemberontak dua bulan kemudian pada usia 69 tahun, di kotanya sendiri, Sirte, dan jenazahnya kemudian dipamerkan di ruang penyimpanan daging di kota Misrata.
Sejak itu kondisi Libya menjadi semi anarkis dan menjadi pusat penyelundupan manusia memanfaatkan para pengungsi dan imigran yang hendak menyeberang ke Eropa.

Zine el-Abidine Ben Ali, Tunisia
Ben Ali, 81, adalah autokrat Arab pertama yang digulingkan. Sebelumnya dia menjalani hidup mewah, kontras dengan nasib rakyat biasa di Tunisia, termasuk si tukang buah, Mohamed Bouazizi.

Ben Ali kabur dari Tunisia bersama keluarganya pada Januari 2011 dan tinggal di Arab Saudi, di mana dia diperbolehkan tinggal secara rahasia dan permintaan ekstradisi dari Tunisia selalu ditolak.

Ali Abdullah Saleh, Yaman
Saleh, disebut-sebut sebagai autokrat paling licik di dunia Arab, lengser pada awal 2012 setelah tiga dekade memimpin Yaman, negara paling miskin di Timur Tengah. Dia tetap menjadi figur politik kuat di sana dan kemudian menjalin kerja sama dengan pemberontak Houthi, yang dalam tiga tahun terakhir melawan koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Saleh terbunuh Senin kemarin pada usia 75 tahun, dalam sebuah baku tembak di ibu kota Yaman, Sanaa. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari setelah dia berubah haluan dan mengkhianati kelompok Houthi yang didukung Iran.

Bashar al-Assad, Suriah
Dia diprediksi sebagai pemimpin Arab berikutnya yang tumbang, namun Presiden Assad, 52, mampu mempertahankan tampuk kekuasaan melewati gelombang politik kawasan pada 2011 yang menyulut perang saudara di Suriah dan berujung krisis pengungsi di negara yang hancur lebur itu.

Dengan bantuan Rusia dan Iran, pasukan Assad kembali mengambil alih banyak wilayah di Suriah yang sebelumnya direbut kelompok campur aduk pemberontak dan ekstremis. Namun banyak wilayah di negaranya tinggal puing saja dan biaya membangun ulang diperkirakan bisa mencapai US$ 250 miliar. Perundingan untuk mengakhiri perang masih tidak menentu dan demikian juga dengan nasib Assad.

Sumber: The New York Times, dilansir dari Beritasatu

Post a Comment

0 Comments