12 Februari 2018

Di Lamteng Posyandu Tidak Berjalan Baik Akibatnya Stunting Tinggi

SHARE
Ilustrasi 

BANDARLAMPUNG -- Tingginya jumlah penderita stunting, di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan, bisa jadi disebabkan karena tidak berjalannya kegiatan posyandu di desa-desa yang ada diwilayah tersebut.

"Tingginya jumlah penderita stunting di daerah berarti pemeriksaan ibu hamil, kegiatan posyandu tidak berjalan dengan baik" ujar Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi Lampung, Dra. Yulia, ketika ditanya soal stunting yang banyak dialami oleh masyarakat di pedesaan, Senin (12/2).

Yulia menambahkan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh untuk anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, yang secara fisik diperlihatkan dengan ukuran anak yang rendah untuk usianya atau kerdil.

Penyebab dari stunting adalah kurangnya asupan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan (dari dalam kandungan ibu).

Penanggulangan stunting bisa ditopang dengan penyediaan infrastruktur dasar kesehatan baik seperti ketersediaan air bersih yang cukup dan sanitasi yang baik.

Banyaknya balita penderita stunting di tiga kabupaten tersebut, menjadi perhatian sampai ketingkat nasional.

Untuk itu, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI) bakal turun tangan langsung guna mengatasi masalah ini.

Kemenko PMK pada tahun ini, telah mempersiapkan program pengentasan stunting melalui peluncuraan program padat karya tunai, dengan dibiayai dari dana desa yang bersumber dari pemerintah pusat.

Perlu diketahui, tingginya jumlah penderita stunting, di tiga kabupaten tersebut, bisa dibilang merupakan salah satu indikator penyebab menurunnya indeks kebahagiaan di Provinsi Lampung, yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu.

Kemiskinan atau faktor ekonomi warga yang lemah juga diduga merupakan salah satu penyebab banyaknya balita penderita stunting di tiga kabupaten tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), tahun 2016 yang dirilis pada 2017, jumlah penderita stunting di Kabupaten Lamteng mencapai 59.838 jiwa, dengan jumlah penduduk miskin, mencapai 165.670 jiwa.

Kabupaten Lampung Timur, warga miskin sebanyak 172.610 jiwa, jumlah balita penderita stunting 40.790 jiwa, dan Kabupaten Lampung Selatan warga miskin mencapai 158.380 jiwa, penderita stunting 42.971 jiwa.

Sementara itu, Kasi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinkes Provinsi Lampung, Dr Asih Hendrastuti mengatakan, stunting akan memperlambat berat dan tinggi badan serta menurunkan daya pikir. Jika ini berkelanjutan maka akan berdampak pada peningkatan pengangguran  dan kemiskinan.

Stunting/pendek merupakan gambaran gangguan gizi kronis dimana akan banyak menimbulkan masalah kesehatan dimasa yang akan datang.

Seperti rendahnya kecerdasan, resiko mengalami penyakit tidak menular ( Diabetes Melitus, hipertensi, penyakit jantung dan stroke). Jika warga banyak yang mengalami stunting, maka akan menambah beban ekonominya.

Adapun faktor yang menyebabkan stunting yaitu, faktor lingkungan, pelayanan kesehatan, prilaku, kesehatan reproduksi, Indeks Pembanunan Kesehatan Masyarakat (IPKM), status ekonomi, dan status pendidikan.

Untuk mengatasi permasalahan balita stunting, agar tidak makin meningkat, perlu dilakukan perbaikan kualitas dan peningkatan layanan program spesifik terkait dengan layanan sektor kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan tinggi kalori, protein dan mikronutrien untuk ibu hamil.

Kualitas pelayanan kesehatan maternal dan anak, promosi kesehatan terkait merokok, cuci tangan, pemberian ASI eksklusif, dan MP ASI perbaikan UKS kesehatan reproduksi, dan layanan KB.

Dari lintas sektor, diperlukan upaya pendidikan wajib belajar 12 tahun, revisi undang-undang perkawinan, perbaikan lingkungan dan pengentasan kemiskinan.
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: