Muhammad Ali dan Muhammad Ridho Ficardo


Oleh Herman Batin Mangku

MUHAMMAD Ali adalah petinju sedangkan Muhammad Ridho Ficardo gubernur. Namun, di panggungnya masing-masing, Ali di panggung tinju profesional sedangkan Ridho di panggung politik, keduanya punya gaya bertarung yang mirip.

Mereka menghemat tenaga saat ronde-ronde awal pertandingan. Keduanya membiarkan lawan melakukan banyak pukulan "straight" hingga menguras tenaga dan membuat pertahanan lawan cukup terbuka.

Ali tak mengandalkan kekerasan pukulan pada lawannya. Dia disiplin menari dan memutari lawannya sepanjang pertarungan untuk kemudian menempatkan tangannya di bawah serta membalas dengan cepat. Memblok jab kiri dan melancarkan pukulan yang tidak terprediksi.

Jelang ronde-ronde terakhir, "Sang Petinju Legendaris Dunia" itu dengan cadangan tenaganya dengan mudah melancarkan pukulan balik, termasuk "chopping" kanan. Ali menyengat lawannya jelang ronde terakhir.

Demikian pula Ridho. Saat lawan-lawan politiknya menguras tenaga dan mungkin pula dana yang tidak sedikit untuk memenangkan suara rakyat sejak tahun lalu, sebagai incumbent , Ridho seperti cuek. Dia fokus pada tugasnya sebagai kepala daerah.

Bahkan, anak muda ini sempat diragukan bisa berlayar ke periode keduanya. Beberapa kali, partainya sendiri, Demokrat, mempertanyakan kesiapannya. Di pekan terakhir pendaftaran, Ridho baru pasti mengantongi tiket partai.

Ada lagi, last menute, H-2 pendaftaran ke KPU, Ridho "menolak" calon wakil yang digadang-gadang  partai yang pernah mendepak pasangannya di Ridho Berbakti I, Bachtiar Basri. Tanpa partai, sang wagub kembali berlayar dengan kapal Ridho Berbakti II.

Keduanya langsung menyisir kantong-kantong suara lewat karya mereka selama tiga tahun ini hingga ke pelosok-pelosok provinsi. Suoh dengan rigit beton, Tulangbawang lewat kawasan pertanian, pengairan, dan masih ratusan karya lainnya.

Keduanya seperti tak ada hari tanpa bertemu dengan masyarakatnya jelang cuti calon pasangan kepala daerah kurang dari dua pekan. Di kantong suara terbesar, Bandarlampung, Ridho bersiap membuka taman kota terbesar untuk masyarakat Lampung di jantung kota, Enggal.

Kamis sore lalu (1/2/2018), Ridho Ficardo menyambangi sarang para jurnalis yang baru direhabnya jadi tiga lantai di Balai Wartawan, Jl. A. Yani No.7, Kota Bandarlampung.

Di hadapan ratusan jurnalis, dalam suasana penuh keakraban, canda-tawa, tanpa protokoler, Ridho memaparkan misi mewujudkan visinya sebagai kepala daerah : "Lampung Maju dan Sejahtera".

"Kita hanya dibedakan dalam hal profesi saja," kata gubernur termuda di Indonesia. Ketika terpilih tahun 2014, Ridho berusia 33 tahun. Gubernur yang sekolah SD-SMP di tengah ladang tebu, lalu memaparkan kemantapannya melangkah ke Ridho Berbakti Jilid II.

Gubernur ke-9 Lampung ini memang kerap mendapatkan "predikat" termuda. Setelah diwisuda dari Jurusan Pertanian, Universitas Padjajaran, Bandung, Ridho alumni berusia paling muda, 22 tahun, Jurusan Intelijen UI-BIN.

Usai S-3 Ilmu Politik UI, Ridho kembali jadi lulusan termuda Lemhanas pada usia 28 tahun.

Gubernur muda ini sudah tiga tahun memimpin Gerbang Sumatera.  Dia selalu mengajak setiap orang bersama menyejahterakan rakyat.

Alumni SMA Alkautsar, Kota Bandarlampung, yakin setiap profesi punya tujuan yang sama, yakni bagaimana melakukan sesuatu yang terbaik sesuai bidangnya masing-masing untuk kesejahteraan rakyat.

"Sebagai anak Lampung tentu kita kelak ingin dikenang sebagai generasi yang telah melakukan karya terbaik untuk daerahnya,"  ujar Ridho Ficardo yang didampingi Kadis Pengairan dan Pemukiman Endarwan.

Hal itu dibuktikannya sendiri. Meski punya pilihan politik berbeda dengan Ketua PWI Lampung Supriyadi Alfian, Ridho tetap bersahabat dan terus melanjutkan komitmennya merehabilitasi Balai Wartawan sekaligus mendukung kerja-kerja PWI Lampung.

Satu gebrakan untuk insan pers Lampung di ronde terakhirnya sebelum cuti, Ridho mendukung upaya PWI Lampung menjadikan lantai tiga sebagai sekolah jurnalistik dan tempat candradimuka wartawan kompeten Lampung.

Banyak sektor lainnya yang juga harus diperhatikannya. Tiga tahun memimpin, gubernur termuda ini telah menorehkan jejak karyanya. Dua tahun pertama, Ridho Berbakti I fokus pada konektivitas antardaerah.

 Dia punya waktu dua tahun lagi menyelesaikan Ridho Berbakti Jilid I, didiskon cuti Pilgub Lampung 2018.

Suami Apriliani Yustin ini punya lima misi, yakni (1) pembangunan ekonomi dan kemandirian daerah, (2) infrastruktur, (3) pendidikan, kesehatan, iptek-inovasi, (4) pelestarian SDA, (5) supremasi hukum dan pengembangan demokrasi berbasis kearifan lokal.

Sebagai Gerbang Sumatera, Ridho sejalan dengan Pemerintah Pusat. Presiden Jokowi menitipkan delapan program nasional ke pundak sang anak muda, Muhammad Ridho Ficardo.

Kedelapan proyek prestesius Kabinet Jokowi itu berupa jalan tol, kawasan industri, penyeberangan Bakau-Merak, revitalisasi Bandara Raden Intan II, bendungan, Itera dan pusat olahraga, ketahanan energi, dan double track kereta api.

Meski beban tanggung jawab begitu besar di pundak sang pemimpin muda, Ridho tak pernah kehilangan senyumnya, kesantunannya.

Dia tak sungkan memanggil banyak orang yang notabene rakyatnya dengan sebutan abang dan tak ragu mencium tangan mantan gurunya.

Muhammad Ridho Ficardo, "Muhammad Ali" muda milik Lampung hingga 2019.  Untuk periode selanjutnya, 2019-2024, soal menang-kalah, hak prerogatif Alloh SWT.

Kerennya gubernur muda Lampung ini, meski sudah seharian sibuk dengan acara protokuler untuk umat, Ridho masih menyempatkan diri ber-rock and roll dengan rocker senior Hary Kohar. Salam "L" dua telunjuk dan jari tengah rapat Pak Ridho.

Post a Comment

0 Comments