25 Februari 2018

Sibuk Bangun Fly Over, Pemkot Bandar Lampung Tidak Perhatikan Tingkat Kepuasan Masyarakat

SHARE
BANDAR LAMPUNG --- Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi belum memberikan sumbangsih maksimal untuk mendongkrak tingkat kepuasan masyarakat. Bahkan, kota yang menjadi kawah candradimuka Provinsi Lampung ini justru menyumbang ketidakbahagiaan masyarakat perkotaan karena memiliki angka inflasi yang tinggi.

Dua hal ini disoroti serius oleh Gubernur Lampung (nonaktif) Muhammad Ridho Ficardo, menanggapi rendahnya tingkat kepuasan masyarakat dan rendahnya indeks kebahagiaan masyarakat Lampung yang dirilis Badan Pusat Statistika (BPS) beberapa waktu lalu. “Ya kita menjadikan masalah ini suatu koreksi ke dalam. Bahwa memang ada hal-hal yang harus kita perbaiki," kata Ridho, Sabtu (25/2/2018). Seperti diketahui, Ridho merupakan pemimpin level Provinsi (Gubernur) yang merupakan wakil Pemerintah Pusat dan memiliki tugas melakukan pembinaan dan pengawasan bagi Kabupaten/kota.

Secara tegas Ridho memberi beberapa hal yang terjadi di Bandar Lampung. Pertama, terkait dengan penyebab rendahnya kebahagiaan masyarakat Kota Bandar Lampung. Salah satunya disebabkan kurangnya ruang terbuka hijau (RTH). “Selama tiga tahun kepemimpinan saya, Pemkot cenderung sibuk membangun infrastruktur jalan seperti fly over. Namun, kurang memperhatikan ruang terbuka hijau sebagai sarana dan prasarana hiburan masyrakat Kota Bandar Lampung,” ujar Ridho.

Sebagai upaya untuk menigkatkan indeks kebahagiaan warga kota itu, Pemerintah Provinsi Lampung "jemput bola" dengan mengambil alih dua ruang terbuka hijau dan melakukan renovasi. “Saat ini kita sudah bisa lihat, pembangunan tahap satu ruang terbuka hijau di Enggal (elephant park) dan di PKOR telah rampung dan sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Bandar Lampung,” katanya.

Kedua, Ridho menyoroti keengganan Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk berupaya menurunkan inflasi, yang juga menjadi penyebab turunnya indeks kebahagiaan itu. “Naiknya harga beras beberapa waktu lalu, menjadi salah satu penyebab tingginya nilai inflasi di Lampung,” katanya.

Saat inflasi tinggi, salah satunya disebabkan kenaikan harga beras, Pemerintah Provinsi melakukan upaya operasi pasar (OP) yang dilakukan bersama bulog di 14 kabupaten/kota. “Salah satu syarat dilakukan operasi pasar sendiri adalah permintaan dari pemerintah daerah. Terakhir, kita lakukan operasi pasar di Lampung Tengah,” kata Ridho.

Namun lanjut Ridho, permintaan untuk operasi pasar sendiri tidak dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. Hal ini menjadi penyebab tingginya inflasi.

“Mungkin walikotanya gengsi untuk minta bantuan kepada gubernur, membuat nilai inflasi terbesar terjadi di Bandar Lampung,” sindir Ridho. Upaya Pemprov Lampung meningkatkan kepuasan masyarakat tak saja dilakukan di Bandar Lampung tetapi juga di daerah lain. Salah satu program yang menonjol adalah upaya percepatan perbaikan jalan provinsi secara bertahap.

Untuk tahun ini, Pemprov akan membangun infrastruktur 6 ruas jalan di 5 Kabupaten tahun anggaran 2018 ini. Adapun ke 5 Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Pringsewu dengan ruas jalan Pringsewu – Pardasuka sepanjang 18.797 Km. Ruas jalan Padang Cermin –  Kedondong Kabupaten Pesawaran sepanjang 29.671 Km,. Kemudian ruas jalan Bangunrejo – Wates Kabupaten Lampung Tengah sepanjang 22.212 Km, ruas jalan Simpang Korpri – Sukadamai Kabupaten Lampung Selatan sepanjang 20.468 Km dan ruas jalan Simpang Pematang – Brabasan Kabupaten Mesuji sepanjang 29.443 Km.

Selain upaya diatas, Ridho menjelaskan selama tiga tahun kepemimpiannya memiliki tiga program strategis guna mensejahterakan prekonomian masyrakat Lampung. Program strategis tersebut memperkuat basis ketahanan pangan, industrialiasi pertanian dan pariwisata. Untuk ketahanan pangan, Lampung menduduki pringkat ke-4 surplus beras se-Indonesia.

Sedangkan dalam program industrialisasi pertanian Lampung terus menggalakkan hilirisasi produk pertanian. "Sangat disayangkan jika 60% kebutuhan ekspor kopi robusta dari Lampung masih dalam bentuk biji. Acara pemprov seperti Lampung Kopi Festival dan international coffe day untuk industrialisasi kopi. Dengan harapan, nantinya kopi robusta Lampung tidak di ekspor berupa biji,” katanya.

Untuk Program strategis ketiga, yaitu pengembangan pariwisata, Lampung memiliki potensi wisata bahari yang besar. Hal ini dapat dilihat dengan keseriusan Pemprov memperbaiki akses jalan menuju tempat pariwisata bahari. “Alhamdulillah, indikator tingkat kunjungan pariwisata di Lampung dua kali lipat dari pertumbuhan indikator pariwisata nasional. Ini upayakan saya bersama Pak Bachtiar meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.
SHARE

Author: verified_user

0 komentar: