12 Maret 2018

Kekuatan "Smiling Ridho"

SHARE
Muhammad Ridho Ficardo

BANDARLAMPUNG - "Pak Ridho itu ngga jaim (jaga imej, red). Kalo kita ngga mulai minta ajak foto bareng, pasti dia yang ngajak. Memang tak banyak omong tapi kalau menjawab pertanyaan lancar. Dia orang pinter," demikian ungkapan seorang anak petani yang merasa terkesan bertemu Muhammad Ridho Ficardo dalam acara Rembug Tani di Sidomulyo, Lampung Selatan, April 2017 lalu.

Ridho memang sosok chemistry yang menyesuaikan diri. Dari sejumlah pengamatan orang yang dekat dengannya, pemimpin muda yang cerdas ini lebih senang berbagi porsi dengan siapapun yang ditemuinya. Jarang sekali, Ridho mengambil peran 90%. Dia tak pernah mendominasi. "Paling ideal fifty-fifty. Itulah sebabnya ketika bertemu dengan orang tua, sikap santunnya luar biasa. Dia lebih banyak mendengar. Dari sinilah berbagai program tercipta. Saat dia mendengar dia menyerap banyak hal dari rakyatnya," ujar seorang di jajaran dekat Ridho.

Sebut saja ketika Ridho yang saat dilantik menjadi gubernur termuda se-Indonesia ini membenahi Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek. Dia datang di waktu senggang hari libur dengan kendaraan pribadi. Sontak kedatangannya menarik perhatian para dokter, perawat, dan petugas rumah sakit. Ridho masuk hampir ke seluruh ruangan. Langit-langit ada yang bolong, kondisi ruangan yang belum nyaman. Semua dilihatnya. Dia juga berdikusi cukup panjang dengan para dokter.

Tak banyak yang memperhatikan jika Ridho punya tangan dingin. Di akhir tahun 2017, RSUD Abdul Moeloek disebut KARS mengalami lompatan tinggi sebagai rumah sakit daerah, yang tak kalah dengan rumah sakit besar. Bangunan ditambah, peralatan canggih diadakan, dan sumber daya manusia (SDM) rumah sakit dibenahi. Kini, RSUD kebanggaan Lampung ini makin oke. Ridho pun tak begitu mengaku-aku bahwa itu hasil kepeduliannya. Dia terlihat senang saat dengan senyumnya yang khas, karena masyarakat dapat memaksimalkan fungsi rumah sakit itu.

Padahal, kita masih ingat bahwa pembenahan RSUD Abdul Moeloek, diuji saat isterinya Ibu Yustin, menaruh kepercayaan terhadap rumah sakit ini ketika akan melahirkan. Suatu teladan luar biasa yang dihadirkan pemimpin muda. :Pelayanan yang saya dapatkan harus juga didapatkan oleh masyarakat yang berobat di sini," ujar Yustin saat akan meninggalkan RSUD Abdul Moeloek setelah melahirkan. Mata dunia memang makin terbuka. Kita akan besar jika memulai dari dalam diri kita. Semoga ke depan RSUD Abdul Moeloek makin mampu melayani rakyat dengan baik.

Dari rumah sakit kita beralih ke pelajaran berharga lainnya yang diperoleh rakyat. Misalnya dari makna hidup bergotong royong. Media massa mencatat ketika Ridho pertama kali membangun jembatan gantung. Dia ikut terlibat bergotong royong. Maklum. Ridho memang pramuka sejati. Dia bergabung bersama Tim 1000 Jembatan, Tagana dan seluruh unsur masyarakat untuk membangun jembatan itu. Dan gajinya dia hibahkan.

Pelan tapi pasti. Gayung bersambut. Rakyat ternyata merasakan fungsi jembatan itu. Semula khawatir karena banjir anak-anaknya tak bisa sekolah kini tidak lagi. Yang semula terpisah puluhan tahun, kini tidak lagi. Getok tular pun terdengar seantero Lampung. Ridho membangun jembatan gantung. Bukan untuk mengusir macet karena deru kendaraan yang begitu banyak. Bukan pula untuk program mercusuar. Namun karena dia menyadari rakyatnya butuh jembatan untuk masa depan. "Rawatlah jembatan gantung ini. Harus sabar. Jangan rebutan. Manfaatkanlah dengan baik," ujar Ridho, lagi lagi dengan senyumnya yang khas (se-khas smiling Ridho).(TIM)


SHARE

Author: verified_user

0 komentar: