15 Maret 2018

Menerka Arah Dari Retaknya Flyover Pramuka

SHARE
ilustrasi

RETAKNYA Flyover Pramuka begitu cepat menyedot perhatian jurnalis untuk dijadikan pemberitaan. Pengamat, wakil rakyat hingga Plt Walikota Bandar Lampung juga sigap menyikapi temuan seorang anggota polisi terkait retaknya bagian bawah jembatan layang yang dikerjakan oleh PT Dewanto selaku rekanan.

Perhatian serius semua pihak terkait hal itu patut diapresiasi karena dengan begitu maka masyarakat melihat bahwa pemimpinnya serta para stakeholder memperhatikan bangunan jembatan layang yang berasal dari dana pinjaman dari PT Multi Sarana Insfrastruktur (SMI) oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung bersama DPRD Bandar Lampung.

Terlepas alasan karena bangunan berasal dari utang maupun alasan lainnya, yang pasti publik dipertontonkan kesan baik meski sampai hari ini semua pandangan terkait flyover retak hanya sebatas hasil dari penglihatan kasat mata yang belum diuji oleh pihak yang memiliki kompetensi mengenai konstruksi.

Dengan ditandatanganinya surat oleh Plt Walikota Bandar Lampung Yusuf Kohar agar tim independen melakukan pengujian terhadap konstruksi flyover guna mengetahui ketahanan dan kelaiakan bangunan merupakan langkah maju. Tentunya, untuk melakukan pengujian itu di Lampung ada dua tempat yaitu di Laboratorium Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL) dan Dinas PUPR Lampung.

Seperti diketahui bersama, hebohnya temuan flyover retak merupakan kali kedua setelah sebelumnya Flyover MBK yang dikabarkan retak dari temuan Komisi III DPRD Bandar Lampung. Hanya saja, kali ini temuan itu berasal dari anggota kepolisian. Dari banyaknya flyover di Indonesia hanya anggota polisi di Lampung yang begitu atensi malaporkan temuannya.

Temuan tersebut meski belum dilakukan pengujian, pihak rekanan PT Dewanto dan Dinas PU Kota Bandar Lampung membantah bahwa hal itu membahayakan sebab keretakan hanya terjadi pada bagian luar. Dari pandangan masyarakat awam tentu berfikir bahwa tidak mungkin kontraktor mau mengambil resiko tinggi dengan mengerjakan bangunan dengan anggaran milyaran rupiah dengan kerja asal-asalan.

Harapan publik hanya berharap dari hasil kerja tim independen yang akan melakukan pengujian kontruksi semua flyover di Bandar Lampung utamanya pada bagian item beton. Dari hasil kerja tim teknis bahwa hasil yang didapat ialah kesimpulan apakah bangunan tersebut laik atau tidak, membahayakan atau aman untuk masyarakat.

Disisi lain, mengenai ada atau tidaknya kerugian negara dalam pengerjaan bangunan itu bukan domain tim teknis tapi aparat penegak hukum. Oleh karena itu, idealnya tim teknis bekerja sesuai kompetensinya beriringan dengan aparat penegak hukum melakukan penyelidikan potensi kerugian negara. 

Sebab, bila dari hasil kerja tim teknis menyimpulkan bahwa semua flyover di Bandar Lampung aman dan laik maka hal itu dapat dijadikan pembenaran atas dihentikannya penyelidikan dugaan penyimpanan Flyover Kimaja-Ratudibalau oleh Kejari Bandar Lampung yang diduga bermasalah pada item beton dan spesifikasi. Kaena diduga penyimpangan pada bangunan flyover Kimaja yang diselidiki Kejari era Kasipidsus Safei dan Kepala Kejari Widiantoro menyelidiki item beton yang diduga tidak memakai beton SNI sesuai spesifikasi dalam dokumen kontrak tapi rekanan memakai beton sendiri yang telah dilakukan pengujian di laboratorium yang tersertifikasi.(wendri)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: